Thursday, July 10, 2014

Studentenkerk bukan sekedar gereja

Utrecht, Juli 2014 – Tak terasa sepuluh hari pertama Ramadhan telah kulewati. Entah mengapa ramadhan kali ini tidak terasa seberat yang ku kira. Maklum untuk tahun ini memang bulan ramadhan bertepatan dengan puncak musim panas di negeri kincir angin ini, karena itu aku sangka akan sangat berat perjuangannya. Tapi mungkin karena sudah terbiasa berpuasa 18-19 jam sehari, aku jadi tidak terlalu merasa lelah yang luar biasa. 

Tak terasa tahun ini merupakan ramadhan ke-limaku di Belanda dan akan menjadi lebaran kelimaku disini pula. Sungguh sedih rasanya mengingat merayakan lebaran sendirian di negeri orang. Tidak ada ibu yang memelukmu dan memasakkan masakan khas Lebaran, tidak ada ayah yang setiap mau lebaran selalu disibukkan dengan kesibukan rumah karena orang yang biasanya membantu kami membersihkan rumah pasti mudik. Tidak ada adik yang selalu usil dan selalu dapat uang THR lebih dari aku (alasannya sih udah gede, tapi bukannya kalau sudah gede THRnya kudu dibanyakin ya? Hahaha). Setelah 4 tahun lamanya ku berjuang di negara dingin ini, rasa rindu itupun semakin memuncak. Kesibukanku mengerjakan tugas akhir yang membuatku lupa untuk memasak hidangan buka puasa membuatku rindu dengan rumah. Karena kalau di rumah pasti ada yang ngingetin makan, ada yang masakin dan ada yang merhatiin.

Kawan, kuliah diluar negeri itu memang nikmat. Tapi dibalik kenikmatan itu, ada pengorbanan yang harus siap kau berikan. Mulai dari yang sepeleh hingga yang besar. Mulai dari rindu masakan mama sampai tidak bisa datang ke acara pernikahan atau bahkan pemakaman sanak kerabat. Kalau kabar duka datang, hanya satu yang bisa kita lakukan, tunduk sujud kepada Tuhan dan melantunkan do’a-do’a untuk yang tercinta. Pada akhirnya ibadahlah yang membuatku merasa dekat dengan rumah.

Belanda merupakan negara yang sangat membebaskan warna negaranya untuk menjadi dirinya sendiri. Dalam alasan agama, Belanda pun negara yang cukup diverse. Ada yang katolik, protestant, hindu, budha, islam, atheist, agnostic, dsb. Yang aku liat sampai sekarang, semuanya hidup rukun dan tidak ada saling cela atau saling hina. Karena banyak orang berpikiran bahwa hidupmu adalah hidupmu dan hidupku adalah hidupku. 

Sebagai seorang anak internasional kadang terbersit rasa terasingkan. Yah, tau lah kalau di Indonesia pasti dari tetangga yang satu ke tetangga yang lain saling tahu apa yang terjadi di tetangga itu. Tapi entah aku merasa nyaman tinggal di sini karena orang tidak akan menilai kamu dari materi ataupun gaya busanamu tapi lebih ke pribadi kamu. 

Di negara inilah aku menemukan keluarga baruku. di sini, temanmu adalah keluargamu. karena merekalah yang ada disana ketika kamu sakit ataupun ketika kamu senang. Rata-rata aku berteman dengan sesama Indonesia dan teman-teman International. mungkin karena ada kesamaan rasa satu sama lain (sama-sama sendiri, jauh dari keluarga dan butuh keluarga baru). Orang-orang inilah yang mewarnai hari-hariku. Mereka pun berasal dari negara, budaya, dan adat istiadat yang berbeda. Agama merekapun berbeda-beda. 

Di tempatku mencari ilmu, Nijmegen, ada satu gedung yang dinamakan “Studentenkerk” a.k.a. Gereja Student. Tapi jangan salah, walaupun namanya studentenkerk, didalamnya tidak hanya ada tempat peribadatan umat kristian, tapi juga ada tempat untuk diskusi, makan bersama (dapur yang cukup besar), tempat meditasi dan juga tempat ibadah untuk umat muslim. 
Ya, di dalam studentenkerk, ada satu ruangan yang lumayan besar dan didedikasikan untuk mahasiswa yang beragama Islam. Ruangan itu lumayan luas dan dibagi menjadi 2 dengan kain pembatas untuk memisahkan tempat perempuan dan tempat laki-laki. Selain itu, ada 2 kamar mandi dan tempat wudlu terpisah (untuk perempuan dan laki-laki). Tempat wudlu-nya tidak seperti yang ada di Indonesia. Disini modelnya seperti di Arab atau Turki. Dimana waktu kamu berwudlu kamu duduk. Selain itu disediakan satu kamar mandi yang tidak jauh dari tempat ber-wudlu. Tempatnya pun dijaga kebersihannya. Tidak ada lumut ataupun sudut-sudut yang kusam. Selain kran berwudlu, disana juga disediakan tissue untuk mengeringkan diri sehingga mukenah yang akan kamu gunakan tidak lembab dan mudah berjamur. Serta juga sabun untuk mencuci tangan dan beberapa sendal. Ruangan sholat juga dilengkapi dengan lampu yang bisa diatur intensitas cahayanya. Selain itu ada pula pemanas ruangan, sehinggu pada saat musim dingin, kita masih bisa beribadah dengan nyaman. Ruangan ini juga dilengkapi dengan Al-Qur'an, tasbih, dan buku - buku bertema islam yang kebanyakan berbahasa Belanda.

Studentenkerk, Nijmegen


(kanan) tempat sholat, (Kiri) tempat untuk Wudlu
Taukah kau kawan, bahwa busana sholat untuk negara lain itu berbeda dengan Indonesia. misalnya di Turki ataupun Maroko. Perempuannya tidak perlu menggunakan mukenah, karena rata-rata baju yang mereka gunakan sudah sesuai dengan ketentuan busana sholat. sehingga merekapun sholat dengan baju yang mereka kenakan. selain itu ada juga perbedaan kecil yang bisa kamu temukan dengan tata cara sholat dari setiap negara. Dalam hal ini aku tidak mempermasalahkan hal itu, karena toh semua yang menilai Allah. Aku melihat ini sebagai suatu keindahan dan kebesaran Allah atas ciptaannya. Aku pernah dengar bahwa manusia memang diciptakan Allah dengan segala perbedaannya dan keunikannya, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku sehingga kita bisa belajar antara satu sama lain. Di negara Orange ini aku menyaksikan keindahan itu. Bagaikan mini Ka'bah hehehe

Begitulah cerita Ramadhanku untuk hari ini, kulanjutkan esok ya kawan.