Kegagalan pastinya hadir dalam hidup kita. kapan mau belajar kalau nggap pernah gagal. Waktu kecil kita pasti pernah belajar naik sepeda, dan pastinya terjatuh. Terjatuh itu membuat kita menangis dan sedih. tapi apakah membuat kita berhenti berusaha? Untuk bocah yang satu ini, TIDAK. Dia mencoba lagi dan lagi. Dengan sejuta coreng monyeng dan peluh keluh, alhasil dia bisa mengendarai transportasi roda dua itu. Kepuasan dan Keberhasilan dibumbui dengan memar, luka, dan lecet disana sini. Kepuasan yang di raih dengan penuh perjuangan. Ingatkah kalian bahwa Kepuasan tersebut yang membuat kita sebagai seorang anak menjadi sangat bahagia dan bangga. Bangga menunjukkan bukti luka berbalut plester di depan teman-teman sekelas. berkumandang bahwa saya bisa. Membusungkan dada walaupun rasa perih dari perjuangan belum hilang.
Kini? Cerita yang serupa terjadi. Bocah yang sama, di benua berbeda dan di masa yang sangat komplex. Di suatu masa dimana kepandaian di ukur dengan angka-angka yang menghiasi hasil laporan belajar. Di masa dimana keluh dan peluh sudah jarang dilihat sebagai suatu usaha, hanya hasil. Walaupun begitu, masih ada orang yang perduli dengan perjuangan untuk menghasilkan ide dan gagasan. Sayangnya perbandingannya masih harus di pertanyakan lagi. Si bocah yang kini di kelilingi kegalauan dan keributan anak muda tentang fashion, perkembangan technologi, dll. Tetapi tetap menjadi bocah biasa, yang tidak aneh-aneh. Hanya mengikuti perkembangan berita dari pendidiknya tentang ilmu alam yang dia jalani setiap harinya.
Si bocah yang kini telah berubah menjadi seorang calon pencetus ide untuk dunia dan sedang merangkak kembali (kali ini bukan untuk belajar berjalan) untuk mengais sebaris ilmu dari setiap lecture yang dia ikuti, setiap praktikum yang dia jalani menjadi kesehariannya. dan tibalah dia di satu titik. dimana sekali lagi kepandaian yang di ukur mainly lewat angka-angka atau huruf-huruf yang tertera di kertas ujian. Taukah bahwa bocah ini selalu menemukan kesulitan dalam hal ini. canggung, grogi menjadi akar permasalahan. Dikala dirinya yakin bahwa apa yang menjadi bekalnya masuk ke dalam ruangan eksekusi akan cukup untuk membuatnya keluar hidup-hidup dan mendapatkan beberapa pundi-pundi bonus, kenyataan berkata lain. Musuh bebuyutan si bocah muncul dan akhirnya....
BLANK
Dirinya tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Hanya bisa mennggoreskan seadanya dan secukup bekal yang dibawanya. Kekeliruan dalam membawa bekal juga membuatnya serasa terlibas dalam sekali hempasan pedang. Dia sudah yakin, sekeluarnya dia dari ruang eksekusi ini, dia akan segera berakhir dan harus kembali masuk ke ruang eksekusi yang sama tiga bulan mendatang. bagaikan narapidana pendidikan yang gagal melakukan mediasi dengan petugas penjara untuk dibebaskan dari jeruji tersebut. Terhempas jatuh ke dasar bumi. Tak bersisa.
Nila -MJ-