Saturday, April 28, 2012

Gila

Itu datang...
datang...
kegilaan itu datang...
tanpa suara, tanpa pertanda
tanpa dimengerti
tanpa disadari
tanpa izin
tanpa peringatan
tanpa pemberitahuan


tiba-tiba datang
menggerogoti idealisme seorang hamba
menghapus sekat-sekat, batas-batas keberbedaan
melebur, menyatu, namun tak satu
tak akan pernah satu
tak akan pernah bersama, tapi hanya satu
dari satu ingin ke dua tapi berakhir dengan satu
sati berdiri, tegak, namun...bodoh
bagai babi buta yang ingin terbang
tanpa kesadaran atas realita
GILA!

Sunday, April 22, 2012

Tantangan

Membuat suatu laporan adalah keseharian. Tetapi membuatnya bersama orang-orang yang tidak bisa kau andalkan. Itu adalah kehancuran. Kehancuran ini terjadi padanya. Pada seorang makhluk Tuhan yang berdiri di tanah penjajah. Berinteraksi dengan seluruh dunia. Sayangnya dirinya mempunyai dua dunia, dunia kebahagiaan yang dimana dia selalu ingin bersama dengan dunia tersebut dan dunia kewajiban dimana laporan harus di buat dan kemampuannya di uji dalam sangkar beridentitaskan sesuatu yang dikatakan tim. Tim yang keseluruhannya bobrok dan reyot. semua orang sudah mengetahuinya.
Tetapi Tuhan berkata lain, 
Sang makhluk Tuhan yang hidupnya telah di penuhi dengan berbagai tanggung jawab dan persoalan, di jatuhkan ke dalam tim ini, seluruh umat mengelus punggungnya dan dirinya pun menitihkan kesedihan atas kesadaran dirinya, bahwa dia telah masuk ke dalam jurang kelam yang hanya Tuhan yang tahu apa yang yang bisa membuat jurang ini menjadi cerah kembali.

Tapi apa daya, Makhluk Tuhan ini hanya bisa Bekerja, Berusaha, dan Berdoa. Semoga Tangan-Tangan Tuhan turut membantu perjuangannya. Diyakinilah bahwa Tuhan telah memberikannya tantangan. Tantangan yang akan menaikkan level kehidupannya, kedewasaanya dalam melihat dunia. Tidak ada jalan darurat, Tidak ada jalan lain. Hanya bisa menghadapi dan berjuang. Hadapi Tantangan untuk Menjadi yang Lebih Baik

Apakah

Sang fajar kembali ke pangkuan Ibundanya
Angin memanggil-manggil segerombolan pencari alam
Ratu malam bersembul malu diantara rimbunan tangan-tangan alam


Tenang, Santai, Relax
Bersenggama dengan bahasa alam
Bercengkrama Para daging tak bertulang
Menggerakkan persendian...sembari melemparkan kartu-kartu judi kehidupan
Diskusi renyah para pencari kenyataan alam


Keindahan ratu malam yang semakin disembunyikan oleh gumpalan-gumpalan penghias nirwana
Bersenandung bersama petikan senar
Keindahan yang tercipta dari Sang Ibunda
Disaksikan oleh seluruh dunia, segerombolan pencari ilmu alam
Tertawa berselimut kejanggalan


Apakah Salahku?

Tuesday, April 17, 2012

kejadian

Permasalahan itu banyak banget ya...kita sebagai manusia nggak pernah tahu kapan kita bisa dapat permasalahan itu sendiri.

sesuatu yang biasa aja, kebiasaan kita, keseharian kita dan cara-cara yang biasa kita lakukan belum tentu cocok dengan orang lain. Bisa jadi kebiasaan tersebut malah menimbulkan banyak permasalahan baru. Seseorang yang biasannya aktif, menyampaikan gagasannya dan suaranya lantang, akan dianggap pengganggu dan orang yang tidak menghargai perasaan orang lain oleh orang yang tenang dan tidak pernah berbicara. permasalahan kecil ini bisa berbuntut panjang. apalagi jika si lantang mulai berbicara untuk mengungkapkan ide-idenya dan si pemalu enggak berungkap dan hanya diam lalu menyimpan dendam di hati mereka.
suatu hal yang sangat di sayangkan. untuk si Lantang, pandangan orang terhadapnya bisa-bisa jelek, jika si pemalu mulai membuka mulut mereka yang terkunci dan membeberkan berita kebohongan yang hanya ada di dalam otak si pemalu terhadap si Lantang dikarenakan dendam kesumat. SEDIH. Situasi yang sangat di sayangkan oleh sejuta umat. bagaikan belatung di dalam daging segar. menggerogoti dari dalam.


Nila -MJ-

Monday, April 16, 2012

Semangat!!

Kegagalan pastinya hadir dalam hidup kita. kapan mau belajar kalau nggap pernah gagal. Waktu kecil kita pasti pernah belajar naik sepeda, dan pastinya terjatuh. Terjatuh itu membuat kita menangis dan sedih. tapi apakah membuat kita berhenti berusaha? Untuk bocah yang satu ini, TIDAK. Dia mencoba lagi dan lagi. Dengan sejuta coreng monyeng dan peluh keluh, alhasil dia bisa mengendarai transportasi roda dua itu. Kepuasan dan Keberhasilan dibumbui dengan memar, luka, dan lecet disana sini. Kepuasan yang di raih dengan penuh perjuangan. Ingatkah kalian bahwa Kepuasan tersebut yang membuat kita sebagai seorang anak menjadi sangat bahagia dan bangga. Bangga menunjukkan bukti luka berbalut plester di depan teman-teman sekelas. berkumandang bahwa saya bisa. Membusungkan dada walaupun rasa perih dari perjuangan belum hilang.

Kini? Cerita yang serupa terjadi. Bocah yang sama, di benua berbeda dan di masa yang sangat komplex. Di suatu masa dimana kepandaian di ukur dengan angka-angka yang menghiasi hasil laporan belajar. Di masa dimana keluh dan peluh sudah jarang dilihat sebagai suatu usaha, hanya hasil. Walaupun begitu, masih ada orang yang perduli dengan perjuangan untuk menghasilkan ide dan gagasan. Sayangnya perbandingannya masih harus di pertanyakan lagi. Si bocah yang kini di kelilingi kegalauan dan keributan anak muda tentang fashion, perkembangan technologi, dll. Tetapi tetap menjadi bocah biasa, yang tidak aneh-aneh. Hanya mengikuti perkembangan berita dari pendidiknya tentang ilmu alam yang dia jalani setiap harinya. 

Si bocah yang kini telah berubah menjadi seorang calon pencetus ide untuk dunia dan sedang merangkak kembali (kali ini bukan untuk belajar berjalan) untuk mengais sebaris ilmu dari setiap lecture yang dia ikuti, setiap praktikum yang dia jalani menjadi kesehariannya. dan tibalah dia di satu titik. dimana sekali lagi kepandaian yang di ukur mainly lewat angka-angka atau huruf-huruf yang tertera di kertas ujian. Taukah bahwa bocah ini selalu menemukan kesulitan dalam hal ini. canggung, grogi menjadi akar permasalahan. Dikala dirinya yakin bahwa apa yang menjadi bekalnya masuk ke dalam ruangan eksekusi akan cukup untuk membuatnya keluar hidup-hidup dan mendapatkan beberapa pundi-pundi bonus, kenyataan berkata lain. Musuh bebuyutan si bocah muncul dan akhirnya....

BLANK

Dirinya tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Hanya bisa mennggoreskan seadanya dan secukup bekal yang dibawanya. Kekeliruan dalam membawa bekal juga membuatnya serasa terlibas dalam sekali hempasan pedang. Dia sudah yakin, sekeluarnya dia dari ruang eksekusi ini, dia akan segera berakhir dan harus kembali masuk ke ruang eksekusi yang sama tiga bulan mendatang. bagaikan narapidana pendidikan yang gagal melakukan mediasi dengan petugas penjara untuk dibebaskan dari jeruji tersebut. Terhempas jatuh ke dasar bumi. Tak bersisa.

Nila -MJ-