Kedatanganku di rumah keluarga itu disambut sangat hangat. Mereka
memiliki 3 orang anak yang 2 diantaranya lahir di Belanda. Anak terakhir masih
berusia sekitar 6 bulan (kalau nggak salah, soalnya saya jg agak lupa) tertawa
renyah melihatku datang. Aku pun menyapanya dan menggendongnya. So cowok dempal
yg mungil ini hobi banget narik-narik rambutku yang panjang terurai karena tak
ku ikat. Ternyata seluruh hidangan sudah siap tersaji saat aku baru tiba. Jadilah
diriku bengong sambil maen dengan anak-anak dan ngobrol ringan sembari menonton
Olimpiade yang huforia sampai kemana-mana. Ketika aku menggendong si kecil yang
sekarang sudah bisa membalikkan badannya dan berceloteh khas anak-anak, sang
tuan rumah memberika comment “udah cocok tuh nil, tinggal kapan undangannya”
Buahahaha….sontak aku tertawa karena comment sang tuan
rumah. Aduh, kan jadi malu. “bismillah
5 tahun lagi” jawabku. Ya, aku memang sudah berencana untuk menikah pada usia
segitu. Semoga seseorang yang dipilihkan ortu untukku adalah seseorang yg memang sudah aku tunggu. walaupun entah kenapa perasaanku kepadanya masih belum bisa d katanya orang yang jatuh cinta. aku berusaha, tapi entahlah...
Pada pukul 8:45 pm, pasukan rusuh PPI Nijmegen tiba di
tempat acara. Sekitar 15 orang makan bersama di tempat tersebut. Menu padang
yang sudah memanggil-manggil pun semakin menggiurkan. Ditambah kolak pisang
sebagai hidangan berbuka, semakin menambah kenikmatan. Pukul 9.28 pm adzan
magrib berkumandang. Serta merta seluruh ruangan mengucap hamdalah dan kami pun
siap untuk menggilas habis santapan hari itu. Salah seorang kawanku sudah
berada dalam posisi siap menerkam dengan piring dan sendok di tangan dan posisi
nungging mendekatkan diri pada nasi yang mengepul-ngepul dan memberikan
semerbak aroma.
Sekitar satu jam music piring dan sendok yang beradu
mengiringi malam ke 13 ramadhan. Tak terasa sudah hamper masuk pertengahan
bulan. Setelah itu, kami sholat magrib berjamaah. Kebahagiaan malam itu
bertambah semarak karena Indonesia mendapatkan medali perak di cabang olahraga
angkat besi putra. Teriak bahagia membahana ketika berdera Indonesia nangkring
di posisi ke-2. Setelah selesai, kami (aku dan rekan2 PPI) pamit untuk bersiap
pulang. Jam menunjukkan pukul 11.30 pm dan aku tidak punya lampu sepeda. Akirnya
aku memutuskan untuk nekat pulang. Eehh, tak disangka dan tak diduga, sang
nyonya rumah menawariku menginap disana. Bagai gayung bersambut, kuiyakan
ajakin itu dengan sedikit ragu. Akhirnya aku menghabiskan malam disana bersama
keluarga kecil yang sejahterah itu. Terasalah kehangatan keluarga yang selama
ini aku rindukan. Seandainya ini Indonesia dan bukan belanda, seandainya aku
berbaring di kasur kamarku di Sidoarjo.
Saat jam menunjukkan pukul 3 pagi, kamarku diketuk dan
karena aku emang dasarnya susah di bangunin, sepertinya sang empunya rumah udah
capek ngebangunin. Dengan detik-detik terakhir, beliau membangunkanku dan
untungnya, aku bangun (ini suatu keajaiban yang aku sendiri nggak tau darimana
datangnya). Kami bersantap sahur dengan nasi goreng ikan teri dan telur mata
sapi. Rasa makannya…mantapp banget deh. Pokoknya sahur paling mantap selama aku
di belanda (karena aku jarang makan
sahur, jadi ini menjadi sahur special).
Paginya aku ke kantor menggunakan blus lengan panjang yg
dibeli dari india, katanya ini handmade. Dengan hati-hati aku memasukkan
tubuhku yang kian mekar (bukannya jadi
kurus) dan dalam hati aku berjanji akan mencuci baju ini dengan sangat
hati-hati.
Begitulah ceritaku di hari ke 12 ramadhan.
Dan jangan khawatir, karena cerita..akan berlanjut J