Hidupku dan hidupmu berbeda. Tetapi
dalam perbedaan tersebut ada banyak sekali kesamaan. Salah satu dari kesamaan tersebut
adalah hidup kita semua selalu di bumbui
dengan masalah dan tantangan. Terkadang tantangan
itu sangat besar sehingga membuat kita berfikir bahwa kita sudah ada di ujung tanduk
dan sudah tidak mempunyai jalan keluar lagi. Namun dengan seketika, akal kita bias
menyelesaikan masalah tersebut dan tak jarang, masalah tersebut diselesaikan
dengan ‘calon’masalah baru. Dalam kenyataannya kita selalu jatuh bangun (bagai
lagu dangdut) tapi taukah dirimu bahwa semua ini telah direncanakan. Semua ini
sudah dirancang dengan sempurnah oleh sebuah jawaban. Jawaban ini merupakan
jawaban dari seluruh isi hati makhluk ciptaan-Nya yang hidup dibawah
lindung-Nya.
Makhluknya (tak Cuma manusia saja) selalu diuji dan
diberikan tantangan. Tidak lain dan tidak bukan, hanya ingin membuat makhluk
tersebut kuat dan memiliki hidup yang berwarna serta bervarisasi. Takcuma monotone
lancer-lancar saja, walaupun terkadang ada saja saudara kita yg memiliki
pengalaman tersbut.
Dalam kala ini, cobaan yang diberikan oleh-Nya untuk
sekelompok makhluk ciptaan-Nya adalah berpuasa. Mungkin bagi kebanyakan orang
yang aku kenal, berpuasa bukanlah hal yang istimewa. Banyak yg berkata dirimu
hebat karena tidak makan dan tidak minum sama sekali. Tapi ada pula yang marah
dan mencemooh dan berkata “Kebodohan apa yang telah kamu lakukan? Mengapa kamu
menyiksa dirimu sendiri?”atau “apa?! Mau mencoba merasakan penderitaan orang
miskin yang jarang makan??”bah, itu expressi lain dari segelintir orang. Untuk diriku,
bulan ini adalah bulan peperangan. Perang terbesar, terutama karena tahun ini
aku melalui peperangan ini di negeri orang yang dalam periode bulannya telah
memasuki summer time (matahari lebih panjang dari hari normal) dan rata-rata
waktu puasa adalah 19 jam dalam sehari. Berbeda dengan tanah air kita yang
katanya makmur dan kaya raya tetapi masih saja tidak sadar dan kurang
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Di negeri khatulistiwa tersebut,
puasa menjadi salah satu moment besar yang di hijabkan dan diselenggarakan oleh
seluruh negeri. Masjid, musholla saling mengumandangkan adzan saat waktu sholat
tiba. Tadarus bersama dikala menunggu adzan berbuka, dan tarawih bersama. Sungguh
membuatku merinding karena rindu. Disini aku menghabiskan hari-hariku dengan
bekerja dan menggerakkan sendi-sendi tubuhku untuk melunasi peminjaman
naunganku berteduh selama aku merantau. Indah memang negeri ini. Tetapi kehangatan
keluarga yang aku rindukan, hanya bisa di puaskan dengan berkumpul bersama kawan-kawan
se-paspor yang telah kuanggap sebagai sosok keluarga.
Mau apa dikata, sudah dua kali aku berlebaran di negeri ini
dan akan menjadi ketiga kalinya untuk tahun ini. Harapanku satu, semoga
pengorbanan dan tantangan yang aku hadapi ini mendapatkan balasan yang setimpal
dengan hasil study-ku. Hah, study… pendidikan yang dinilai dengan angka yang
hadir di lembaran putih penentu nasib serta pengalaman bekerja. Hal ini menjadi
hal yang aku takutkan. Selama ini aku berada di negeri penjajah untuk mencari
segudang pengalaman dan selembar kertas yang tergores didalamnya tulisan B.ASc.
kertas ini yang akan menjadi penentu mau dibawa kemana masa depanku. Semoga jalan
untuk mendapatkan goresan tersebut selalu diberi jalan dan diberi petunjuk
oleh-Nya. Walau aku tahu bahwa tantangan dari-Nya pasti tak akan pernah mudah
buahh...ternyata panjang juga ya.. :p -hasi menggalau di kantor-
Nila -MJ-
No comments:
Post a Comment