Hari ke-12 Ramadhan 2012 merupakan satu hari yang cukup
dingin untuk summer di Belanda. Terheran-heran diriku melihat bahwa ternyata di
pagi yang dingin ini, masih ada orang yang betah dan hanya mengenakan selembar
kaos tipis menerjang udara yang cukup dingin bagiku dan membuatku mengeluarkan
kembali jaket autumn pemberian mamaku tahun lalu dan syal yang senada dengan
terusan lengan panjangku. Walaupun hari ini cukup dingin, ada rasa syukur dalam
hatiku karena cuaca tidak sepanas minggu kemarin. Allah SWT memang maha tahu
dan maha pengasih. Dia memberikanku ‘tamu’saat udara di Belanda keluar dari
jalurnya dan mencapai suhu 28°C.
Hal yang sangat membahagiakan untukku, mengingat aku yang lahir dan besar di
dataran tropis nan indah, Indonesia.
Udara dingin
seperti ini juga merupakan cobaan, disaat rekan-rekan kantor mengantri di mesin
kopi untuk menikmati segelas kopi atau kapuchinno hangat skaligus untuk
menghangatkan tangan-tangan mereka di dinding gelasnya, aku hanya beristigfar
dan duduk di depan meja kantorku sembari membaca beberapa ayat-ayat Al-Qur’an.
Aku merasa
bahwa seseorang sedang mengamatiku, tetapi fokusku tak teralis sampai aku
menyelesaikan satu ayat. Lelaki Belanda yang merupakan rekan seruanganku
melihatku dengan tatapan yang berbeda. Semerta dialihkan pandangannya dariku
ketika aku melihatnya. Beberapa menit kemudian, dia bertanya “wah, lagi baca
Al-Qur’an ya?”. Aku jawab dengan anggukan dan senyuman simpul di bibirku. Dia tahu
beberapa hal tentang muslim dan Alhamdulillah dirinya tidak anti terhadap keyakinanku
ini walaupun dirinya sendiri tidak memiliki keyakinan. Dia pernah bercerita
kepadaku bahwa dia pernah tinggal beberapa bulan di Malaysia sehingga dia
kurang lebih tahu kebiasaan ibadah umat muslim. Beruntunglah diriku memiliki
teman seruangan yang sangat menghormati keyakinan satu sama lain yang membuat
suasana di ruangan ini begitu menyenangkan.
Di coffee
break sore ini, ada salah satu rekan kerja yang membuat kue dan berbagi bersama
kami. Sangat di sayangkan bahwa aku harus berpuasa saat ada makanan gratis
pengganjal perut. Tetapi kawanku dan diriku tak kehabisan akal. Aku mencari box
makanan yang bisa aku pakai untuk membawa pulang kue itu sebagai bekal buka
puasa. Kutemuka kotak itu dan kuisi penuh si kotak mungil berwarna hijau yang
entah siapa pemilik karena sudah di abaikan berbulan-bulan di atas lemari.
Untuk menu
berbuka, tak disangka salah satu keluarga Indonesia yang ada disini
mengundangku untuk buka puasa dengan menu masakan padang (akhirnya, dari
kemarin sudah ngiler masakan padang) Alhamdulillah. Berkah Allah datang tanpa
diduga. Memang aku berencana masak rendang daging untuk menu berbuka hari ini. Tetapi
karena undangan sudah disampaikan, saya dengan senang hati akan meluncuk ke
TKP. Kebetulan rumah dari yang punya acara sangat dekat dengan kantor. Jadi
pulang kantor, langsunglah aku meluncur.
---to be continue
-menggalau edisi II di kantor-
No comments:
Post a Comment